Powered By Blogger

Jumat, 17 Juni 2016

The Flying Baloon

Ketika kita tanpa sengaja mengingat semua kejadian yang telah berlalu, membuat kita selalu berpikir akan adanya kemungkinan-kemungkinan yang tidak akan pernah terjadi.
Apa aku bisa kembali ke masa itu dan mengubah keadaan menjadi lebih baik?
Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya?
Aku ingin meminta maaf kepadanya.
Aku terbangun di dalam kamar kosku. Dengan keringat dingin yang membasahi bajuku dan bulir-bulir keringat yang turun melewati pori-pori kulit wajahku. Aku melihat ke arah kipas angin disudut ruanganku dalam kondisi tidak menyala namun kabel masih tertancap di stop kontak. “Mati lampu?” pikirku.
Aku menuruni tempat tidurku, membuka baju yang basah itu dan membuangnya ke baskom yang kusediakan untuk menyimpan baju kotor yang sudah menggunung isinya. “Aku harus ke laundry biasa hari ini.” Aku menggumam pelan sambil menggelengkan kepala melihat isi baskom itu.
Tepat diatas baskom tersebut ada sebuah kalender yang menunjukkan tanggal empat belas. “Bukankah itu tanggal minggu lalu?”
Aku berjalan menuju kamar mandi, menghiraukan lembaran tanggal yang masih belum aku cocokkan dengan tanggal yang pas. Aku segera membasahi wajahku, menatap dalam-dalam cermin dan melihat setiap kerutan yang muncul di dahi. Menyadari bahwa umurku sudah tidak muda lagi. Aku menatap kembali pantulan wajahku di dalam cermin. Ekspresiku biasa, namun terdapat ketakutan yang luar biasa di dalam bulatan hitam mata ini.
Aku bermimpi hal yang aneh lagi, sudah seminggu lamanya aku bermimpi aneh seperti ini. Aku sampai mengingat dengan jelas bagaimana isi dari mimpi itu. Mimpi buruk yang aku alami hampir setiap malam.
Aku sedang duduk dibangku taman, dengan sebuah balon di tangan kananku dan boneka beruang di tangan kiriku. Betapa bahagianya aku melihat balon berwarna hitam gelap yang kudapat dari seorang laki-laki yang memakai setelan jas hitam lengkap dengan topi serta kacamata dengan warna yang sesuai dengan setelannya.
“Kau anak baik, dan aku memberikan ini secara gratis untukmu, nak.” Katanya sambil mengelus kepalaku dan memberiku senyuman yang membuatku merinding. “Selamat tinggal.” Kemudian dia berjalan pergi menjauh meninggalkan aku yang duduk sendiri di taman itu. Sendiri. Tanpa ada orang disekitar yang terlihat berjalan santai ataupun anak-anak seumuranku yang bermain di taman.
Aku menatap ke langit, tiada burung yang terbang mengitari taman, awan pun tidak bergerak. Seperti waktu sedang berhenti untukku. Untuk menyadari apa yang telah aku perbuat.
Aku duduk dan menarik-lepaskan balon yang diberikan oleh orang misterius itu tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang hening.
Balon yang besar itu semakin lama mengecil. Keindahan balon diawal kini sudah tidak dapat dinikmati lagi. Aku menyadari hal tersebut dan melihat ke dalam balon itu. Aku menatap dalam-dalam dan rasanya kepalaku semakin berat, aku melihat adanya pusaran air yang berputar cepat memutari bagian dalam balon. Dan semuanya menjadi gelap.
Aku terbangun dalam posisi duduk di ruangan kosong yang gelap. Sangat gelap. Aku meraba-raba lantai tempatku terduduk, dingin. Tiba-tiba dari arah jam sembilan, aku mendengar suara yang sangat tidak asing bagiku.
“Ki... Riki..” terdengar suara wanita, samar-samar yang memanggil namaku. “Nanti kamu terlambat ke sekolahnya.”
Aku terbangun disebuah ruangan kecil yang berisikan kasur single-bed king size yang bermotif bunga mawar berwarna ungu. “Bangun, nak.” Terdengar lagi suara yang tidak asing ditelingaku, dan berasal dari balik pintu kamar.
Aku berjalan menuju pintu. Aku membuka perlahan pintu tersebut, memastikan bahwa dugaanku ini tidak salah. “Ma.. mama?”
Dengan satu sergapan, aku memeluk erat tubuh mamaku. Aku sangat merindukan wangi sabun yang selalu mama pakai, wangi shampoo yang selalu mama pakai saat keramas, lekukan badan mama yang pas untuk dipeluk, dan elusan tangan halusnya dikepalaku.
Aku memeluknya dengan erat, namun mama melepaskanku. “Mama harus pergi,”
Mama melepasku dari pelukkannya, aku melihat ke bawah.
Darah mengucur deras dari balik punggung mama, kedua tanganku yang sempat memeluk erat mama juga menjadi berwarna merah karena darah mama.
Dibelakang mama, aku melihat sesosok laki-laki yang memberiku balon. Tangan kirinya memegang sebuah es krim coklat tinggi yang menggunung dan sangat menggiurkan, namun ditangan kanannya, ia memegang sebuah pistol handgun hitam dan tercium bau bubuk mesiu yang keluar setelah ia menembak.
“Kau anak yang baik, aku memberikan ini gratis untukmu nak.” Kata pelaku penembakan itu dari balik tabung gas yang berjejer di truknya. “Balon besar yang perlahan akan mengecil dimakan waktu, begitupula nasib. Semanis-manisnya hidupmu, kau akan merasakan pahit yang sesungguhnya.”
Mama tergeletak disampingku, darah terus mengucur dari lubang bekas tembakan dipunggungnya. Tidak ada yang menolongku, semua orang disekitar lari terbirit-birit mendengar suara tembakan. Ada beberapa orang dari dalam gedung hanya melihat dengan raut wajah kasihan.
Pria tersebut pergi dengan senyuman yang puas. Puas memberikan pelajaran untuk hidupku.
Tepat seminggu yang lalu, si pelaku penembakan yang juga merupakan tukang penjual balon keliling dieksekusi mati. Dengan pasal-pasal yang dituduhkan oleh ayahku sebagai seorang pengacara agar pembunuh itu dengan segera meninggalkan dunia ini untuk selamanya dan menerima hukuman secepatnya.
Setelahnya, diketahui bahwa ia membunuh karena ia baru saja kehilangan seorang anak dengan cara yang sama, ditembak mati di depannya. Ia ingin orang-orang merasakan penderitaannya, sasaran utamanya adalah aku, bukan ibuku.
Seperti sebuah balon yang awalnya menarik untuk dilihat dan diikuti, pada akhirnya akan menghilang dan pecah karena tekanan udara dan berbagai faktor lainnya.
Orang yang kita kasihi, orang yang kita sayangi, dapat dengan mudah direbut oleh kuasa Pencipta. Bagaimanapun, dan apapun alasannya, kita diharuskan siap untuk menghadapinya. Karena semua hal yang terjadi, memiliki makna dan dengan harapan agar kita dapat berkembang. Semua orang yang kita kasihi dapat pergi kapan saja, tanpa adanya peringatan ataupun notifikasi di media sosial kita. Semua dengan sekejap dapat diambil kembali.
Sayangilah orang yang kita cintai, hormatilah dia sebelum terlambat.

Minggu, 12 Juni 2016

Couple's Problem

“Kau mau tau apa yang aku rasakan sekarang?” tanya Andien kepadaku disela-sela ritualku sebelum makan, memotret makanan yang baru saja diantar ke meja kami.
“Apa?” tanyaku tak acuh.
“Aku merasa kau seperti membatasi diri denganku. Kau seperti....”
“Seperti mempunyai dunia sendiri,kan?” tanyaku sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Maafkan aku, tapi beginilah aku. Aku merasa nyaman denganmu dan aku ingin menikmati hal ini.”
Dia menggeleng pelan, menarik nafas panjang.
“Aku tetap mencintaimu seperti pertama kali aku menyatakan perasaanku padamu, Dien.” Kataku.
“Aku ingin kau melihatku, sayang.” Katanya, menatap mataku dalam-dalam.
“Aku melihatmu.” Aku membalas pandangannya. “Nih, nih, nih. Cantik seperti biasanya, dan aku merasa beruntung.”
“Kamu tidak mengerti,” ia mengambil pisau dan garpu yang diletakkan di sebelah piringnya. “Itu kode. Ngerti? K-O-D-E. Aku butuh perhatianmu yang lebih sayang.”
“Aku udah ngajak kamu makan disini, tempat favoritmu. Aku udah ajak kamu nonton tadi, film dengan genre kesukaanmu. Aku udah beliin kamu tas yang kamu curi-curi lihat pas kita ke tempat perbelanjaan pas ulang tahun kemarin.”
“Bukan itu!”
Aku diam sejenak menghentikan aktifitasku, aku meletakkan handphone-ku di samping meja dan menggenggam tangannya.
“Apa yang kamu inginkan sayang?” tanyaku halus.
“Please, stop playing your phone while we are dating. You can play it when you’re already at home. Is it really important than having fun with me?”
Aku terdiam sejenak, memandang  handphone-ku.
“Aku tau kamu butuh hiburan, tapi kita sudah sangat jarang menghabiskan waktu bersama dan kamu malah sibuk memainkan handphone itu.”
Aku menggenggam erat tangannya. “Maafkan aku,” aku memasukkan handphone itu ke dalam saku celanaku. “Aku kurang peka sayang. Lebih baik langsung dikomunikasikan seperti ini.”

“Aku harap kamu bisa paham walaupun tanpa aku beri tau, karena itu bukanlah masalah besar, tapi hanya megenai kesadaranmu sebagai pasanganku. Ini mengenai tanggung jawab atas komitmen yang telah kamu katakan.”

Minggu, 27 September 2015

Can You Imagine: A Beautiful Trap

Suara mesin motor itu berderu keras di depan rumahku. Aku yang masih merasa ngantuk berusaha menutup kedua telinga dengan bantal. Karena semalam aku sibuk mengurusi cerita agar tidak dikejar-kejar editor, aku harus mencukupkan daya tahan mataku untuk hari ini. Aku melihat jam menunjukkan arah jarum pendek berada di angka delapan.
Selama lima menit lamanya, aku terjaga, aku harus segera menghentikannya jika aku ingin melanjutkan tidur indahku yang tidak cukup.
Aku berjalan keluar. Membuka pintu rumahku, bersandar cukup lama di pintu sambil menghentak-hentakkan kakiku dengan kuat.
"Bisa kau menghentikan kegiatan itu?" seruku dengan suara yang cukup keras sehingga aku bisa mendengar suaraku menggema di lorong sempit gangku.
Tidak ada tanggapan darinya, walaupun ia sempat berhenti sejenak, namun ia kembali melakukan kegiatan ‘memanaskan motor’. Sekarang suaranya terdengar semakin keras. “Dia sengaja,” pikirku.
"Woi!" aku berseru dengan nyaring. Ia berhenti.
"Kenapa kau tidak balik tidur di kamar tercintamu?" Ia akhirnya bersuara.
"Apa kau tuli?! Bagaimana mungkin aku bisa tidur seperti ini jika kau terus ngegas motormu seperti itu?!!" Aku yang semakin geram dengan jawabannya, mulai memperbesar volume suaraku.
Dia berhenti dan kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan tenang.
Aku pun masuk kembali ke dalam rumah dengan rasa lega, akhirnya aku dapat merebahkankan kembali badan ini ke kasurku yang empuk.
Aku terbangun karena ketukan pada jendela kamarku, aku melihat ke arah jam dinding, menunjukkan pukul 11. Aku membuka tirai jendela dan melihat sosok gadis cantik yang berdiri di halaman rumahku. Rinda, sosok gadis keturunan Jawa berkulit putih halus, berambut hitam legam yang panjang serta memiliki senyum yang manis. Lirikan matanya seringkali membuatku berdiri membatu.
            Sayangnya kedua bola mata indahnya telah dimiliki oleh lelaki tidak berperasaan yang sengaja membuatku bangun dari tidur lelapku.
            Aku tidak nyaman membuat seorang wanita berdiri terlalu lama di luar rumah. Dengan segera aku meloncat dari tempat tidurku dan berjalan keluar dengan langkah yang tegap, tidak lupa untuk merapikan rambutku sebelum menatap wajahnya yang cantik.
“Hai,” sapaku seketika setelah membuka pintu.
            “Hai juga,” dia membalas sapaanku. “baru bangun tidur bang?” tanyanya.
            “Iya nih, semalam begadang kerjain proyek?” Jawabku.
            “Wuih, proyek gede yah mas?”
            “Yah, begitulah,” jawabku. “Dalam rangka apa nih kesini?”
            “Ini di dapur buat sayur kebanyakan. Mau bagiin, jadi neng datang dulu, ngecek, takutnya kamu keluar.”
            “Oh, kebetulan belum sarapan pagi,” Kataku. “boleh deh, dikit aja ya, ntar gak habis.”
            Ia kemudian berjalan pergi kembali ke rumahnya untuk mengambilkan sayur buatannya yang sengaja ia siapkan untukku. Aku yang kebetulan belum sarapan pagi, dengan senang hati menerimanya.
            Ia keluar dengan membawa rantang makanan bercorak bunga ditangan kanannya.
            “Nih, kalau sudah habis, jangan lupa cuci ya rantangnya.” Perintahnya dengan nada centil.
            “Iya, Rinda,” jawabku. “aku bersihin sampai gak berwarna nanti.”
            Ia kembali ke dalam rumahnya, dan aku pun masuk dan ingin segera menyantap sayur buatan Rinda.
Aku masuk ke dalam dapur dan membuka rantang makanannya. Lontong, semur ayam, sayur asam dan sepotong daging yang tidak kuketahui asalnya. Semuanya makanan kesukaanku kecuali daging itu. Namun pada gigitan pertama, rasanya enak, aku melanjutkannya kegigitan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Aku langsung memakannya sampai habis dan memastikan bahwa tidak ada yang tersisa di dalam rantang. Benar-benar nikmat sayur buatan Rinda.
Tak berselang lama, aku mulai merasakan kantuk yang sangat tidak dapat tertahankan. Mungkin karena aku baru menyelesaikan sarapan, dan kesadaranku yang masih belum kembali penuh membuatku mengantuk lagi.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar, merebahkan badanku, dan kembali tertidur dengan cepat.
            Kepalaku terasa berat. Aku tidak tahu ini jam berapa, namun dari pandanganku semua terlihat gelap. Aku kembali mendengar suara deru mesin motor suami Rinda, namun kali ini, suaranya begitu dekat.
            Aku berusaha untuk bangun dan melihat ke arah jendela. Namun kedua tanganku diikat ke belakang dan kakiku diikat dengan sangat kuat. Mulutku di lakban, aku tidak dapat bergerak. Seluruh kamar sudah menjadi hitam gelap karena asap mesin.
Asap!
Aku berusaha mencari sumber asap tersebut. Dan ternyata itu berasal dari pintu kamarku. Ada satu lubang yang baru saja dibuat dengan sangat rapi dan sesuai dengan ukuran masuknya lubang knalpot motor.
Semua jalur keluar masuknya udara sudah ditutup.
Aku berusaha berteriak, berguling-guling menuju ke arah pintu. Namun bodohnya aku. Semakin banyak aku bergerak, semakin banyak aku membutuhkan oksigen dan bernapas. Maka semakin cepat pula aku menghirup asap motor tua yang akan membunuhku dengan perlahan.
Aku akhirnya mengerti, makanan yang diberikan oleh Rinda mempunyai obat tidur yang cukup kuat. Dan sikap baiknya tadi, sialan, aku tidak menyangka gadis polos itu ternyata sekejam ini.
Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 sore, sudah sekitar 4 jam aku tertidur pulas.
Kemudian aku melihat secarik kertas yang tertempel di dinding samping tempat tidurku. Disana tertuliskan,
Apa enak makanan buatanku? Aku memasaknya dengan cinta. Apa enak potongan daging yang sudah masuk ke dalam lambungmu, yang berada di dalam sayur asam buatanku tadi? Apa kau tau daging apa itu? Itu adalah daun telinga suamiku, aku memisahkannya dari kepalanya karena ia tidak mendengarkan perintahku. Apa kau suka? Setelah ini, akan aku berikan dagingmu kepada suamiku yang telah bekerja keras untuk membunuhmu dengan perlahan. Seharusnya dari awal kau tidak pernah menyentuh sedikitpun urusan kegiatan kami.
Aku merinding membacanya. Ternyata Rinda yang kukenal selama ini, memiliki kepribadian ganda. Aku merasakan ingin muntah, terutama membaca kata “daun telinga” itu.
Aku semakin lemas, tidak ada oksigen yang masuk ke dalam kamar, hanya karbon dioksida hasil mesin motor itu yang terus berderu setelah sekian lama. Aku pasrah. Apa yang terjadi dengan hidupku, aku terima.
Aku menutup mataku. Baru kali ini aku memutuskan untuk berdoa, setelah sekian lama aku membolos untuk berkomunikasi dengan sang pencipta. Sekarang, aku menyerahkan seluruh hidupku pada­-Nya.
Dalam hening, aku hanya bisa mendengar deru motor yang tak berhenti, tidak terdengar suara lain, bahkan jam dinding yang biasa berdetak sangat keras, kini tak terdengar lagi.
Aku menghirup napas panjang, kemudian menahan napas cukup lama. Ini agar aku masih bisa bertahan lama, aku berharap akan datangnya keajaiban.
Suara sirine berbunyi, seruan deru motor berhenti.
Aku membuka mataku. Cahaya merah dan biru berputar menembus melewati kaca jendelaku. Aku tersenyum, namun aku tidak berharap penuh, aku takut bahwa kenyataanya adalah itu cahaya yang dengan sengaja Rinda buat agar ia semakin puas menyiksaku.
Dan ternyata aku salah. Aku mendengar derap langkah kaki yang cukup banyak, mungkin ini polisi, atau petugas rumah sakit. Entahlah, yang penting, aku selamat. Aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun di dalam sebuah ruangan persegi. Kali ini, aku melihat dengan jelas cat yang melapisi dinding ruangan ini berwarna putih, tidak seperti ruangan kelam yang hampir membunuhku.
Aku mengerling. Menemukan sahabatku, Gerry, sedang tertidur di sofa merah besar. Aku tersenyum melihatnya. Aku tersenyum karena masih diberi kesempatan untuk dapat melihat wajah bodohnya.
Melihat wajahnya yang sedang tertidur, membuatku ingin sekali melempar bantal ke arahnya. Dia harus bangun. Tanpa pikir panjang lagi, kulemparkan bantalku dengan kuat ke arahnya.
Dia bangun dan terkejut.
“Apa?! Apa ini?!” dia berteriak dengan mulut yang terbuka lebar.
“Sudah bangun?” tanyaku.
“Ah, sialan kau, aku sedang bermimpi membawa tante-tante jalan. Aku pikir itu suaminya melempar sesuatu ke arahku.” Katanya.
Aku tertawa. “Kau masih bisa bermimpi seperti itu? Disaat temanmu ini hampir mati?”
“Biasa saja,” jawabnya.
“Bagaimana kau bisa disini? Terakhir aku mendengar banyak langkah kaki yang masuk ke dalam rumahku.” Tanyaku.
“Oh, itu, gara-gara kau tidak mengirimkan hasil kerjamu. Aku menunggu semalaman, dan kau tidak menghubungiku hari ini. Aku pikir kau sengaja menghindariku karena tidak menyelesaikan tugasmu.” Katanya.
“Hah? Aku sudah mengirimkannya semalam.”
“Tidak ada masuk.” Jawabnya santai.
“Aku tidak dapat bonus lagi bulan ini.” Ujarku sedih.
“Kau tidak dapat bonus, dan kau hampir mati. Untungnya aku segera mencoba datang mencarimu,” katanya. “dan pas ketika aku berada di depan rumahmu, aku melihat pasangan suami istri sedang berdiri di depan rumahmu, sang suami memasukkan motor ke dalam rumah dan sang istri terus membentaknya.”
“Kemana mereka berdua sekarang?”
“Di kantor polisi. Istrinya itu gila ya? Kau ternyata bertetangga dengan orang gila.”
“Yah, dia cantik, bro. Ternyata psyco.”
Ia mengedikkan bahunya. “Pas di kantor polisi, sang istri masih bisa tertawa dan meneriakkan namamu berulang kali ‘aku hampir membunuhnya, aku hampir membunuhnya’.”
            “Gila tuh cewek,” kataku. “terus, suaminya?”
“Suaminya cuman mengekorinya, tertunduk tak bersuara.”
“Apa kau lihat ia menutup bagian telinganya dengan kapas atau sesuatu yang tampak seperti luka?”
Gerry berpikir sesaat, dan matanya memberikanku jawaban yang kuinginkan.
“Ada, ia menutupinya dengan kapas. Kenapa?”
“Aku menjadikannya santapan pagi,” ucapku santai.
Gerry sekarang melihatku ketakutan.

Sabtu, 19 September 2015

Can You Imagine: The Emotionless Love

Sebagai seorang laki-laki, aku harus bertanggung jawab dengan setiap senyuman yang merekah dari bibir gadis yang kita sayangi. Seberapa sering aku dapat membuatnya tersenyum, seberapa sering aku bisa bertingkah bodoh demi membuatnya tertawa.
“Ha! Kau ganteng hari ini,” kataku kepada pantulan bayanganku di cermin. “Apa aku sudah cukup ganteng sayang?” tanyaku pada seorang wanita muda berusia 30-an yang sedang berbaring dikasur yang dilapisi kain sprei bermotif mawar merah.
Dia tidak menjawab.
“Baiklah, baiklah, walaupun kamu gak menjawab, aku tau kok kamu ingin bilang aku ganteng.”
Lagi-lagi tidak ada respon darinya.
“Hey, aku ada satu cerita,” kataku, mengambil posisi duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. “Kamu mau dengar?”
Dia mengangguk pendek. Sangat pendek.
Aku memulai cerita.
“Jadi, suatu hari, ada dua orang kakak adik sedang bermain di lapangan di belakang rumah mereka,” aku memulai cerita. “Tiba-tiba…” aku menghentikan ceritaku, menunggu responnya.
Hening, tidak ada respon apapun.
“Tiba-tiba sang adik pulang ke rumah dan mengabari kepada ibunya bahwa sang kakak telah menelan kecoa,” aku melanjutkan. “Sang ibu menyuruh sang adik untuk segera memanggil ayahnya agar ayah menghubungi dokter untuk datang ke rumah.” Aku berhenti.
Aku mengelus pelan tangannya, menyusuri jemari-jemarinya, kemudian tersenyum ke arahnya.
“Kamu tau, apa jawaban sang adik?” tanyaku padanya.
Aku menunggu responnya.
“Ah, ibu tenang aja. Adik sudah kasih kakak racun serangga kok, pasti kecoanya sudah mati.” lanjut ceritanya.
Aku tertawa terbahak-bahak dengan leluconku sendiri. Sedangkan dia, hanya melihatku dengan tatapan kosong.
Aku berhenti tertawa. Aku menatapnya dengan rasa pilu di hati.
“Aku akan terus berada di sampingmu, bagaimanapun kondisimu.” Kataku, menatap dalam-dalam matanya, terlihat air mata mulai membasahi sekitar matanya.
Aku mengusap setiap butiran air mata itu sebelum mereka jatuh menuruni pipi halusnya.
“Penyakit stroke ini tidak mengubah rasa sayangku kepadamu. Aku telah bersumpah menjagamu dihadapan keluarga dan Tuhan.”
“Aku bahagia kamu masih bisa berada disini, disampingku.”

Can you imagine? Memiliki pasangan yang terkena penyakit stroke dan lumpuh total. Apa kau akan mencintainya seperti aku mencintai istriku? Menemaninya sepanjang hari? Bisa kau membayangkan rasa sedih itu?

Can You Imagine: The Fear From the Phone

            Aku mendengar dengan jelas suara telponku berdering dari dalam kamar. Aku yang sedang asik menonton TV di ruang tamu, langsung meloncat dari sofa dan berlari naik menuju kamar.
            “Bima!!!” seruku.
“Hai, Bim,” aku menjawab panggilan telpon itu.
            Terdengar suara seseorang menggeram.
            “Bim? Hallo, Bim?” aku memanggil-manggil namanya berulang kali.
DOR! DOR! DOR!
            Terdengar suara tembakan dibelakangnya.
            Aku hampir berteriak, namun dengan secepat kilat, aku menutup mulutku. Aku terus mendengar suara dari balik telpon.
            “Semuanya sudah beres?” terdengar suara seorang laki-laki dewasa yang terdengar seperti sedang menggunakan penutup wajah. Ia bertanya kepada seseorang yang mungkin temannya.  "Jangan ada yang masih hidup!"
Aku menjauhkan telpon genggamku dari telinga, mencoba menyamakan suara disana dengan suara yang kudengar dari dalam rumah ini.
            “Lantai satu beres, ayo cepat naik, mungkin masih ada yang diatas. TV ini nyala, sofanya masih hangat.” Jawab temannya.

          Aku berlari mengunci pintu kamar dengan perlahan, masuk ke dalam lemari dan berdoa. Inikah akhir hidupku?

Senin, 14 September 2015

I, Failed

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA, sedangkan dia masih duduk di bangku kelas 3 SMP, namanya Vania. Umur kami terpaut dua tahun. Kami sudah sangat dekat, dekat sekali. Bahkan orang-orang melihat kami seperti orang yang telah menjalin hubungan bertahun-tahun.
Aku sering mengantarnya pulang. Kedua orang tuanya telah mengenal baik diriku. Dan kedua orang tuaku pun telah mengenal baik dirinya. Tidak jarang aku bermain ke rumahnya, sudah aku anggap sebagai rumah kedua.
Dibalik kedekatan kami, sebetulnya aku belum pernah sekalipun mengatakan perasaanku padanya.
Sahabatku telah berulang kali menyuruh agar aku untuk segera menyatakan perasaanku kepadanya sebelum terlambat. Dan aku selalu memberikan jawaban, “Nanti.”
            Vania, gadis ini memiliki dua sahabat yang selalu mengelilinginya kemanapun ia pergi.  Karen, dan Irena. 2 gadis yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
Aku tidak pernah menyatakan kepadanya bahwa aku melarang ia memiliki sahabat, tapi ia terlalu percaya dengan setiap perkataan mereka berdua. Mereka tidak menyetujui hubungan kami. Karena mantan dari Irena adalah teman baikku sejak SMP. Irena menganggap, siapapun yang berteman dengan mantannya adalah cowok yang busuk.
            Aku pun tidak ingin menahannya lebih lama lagi. Suatu malam, satu tahun setelah kami saling mengenal, aku yang sedang duduk santai di teras tiba-tiba merasa bosan. Aku mengeluarkan handphone-ku dan mulai mengetik namanya. Aku mengirimkan pesan singkat yang berisikan ungkapan hatiku padanya yang sampai tiga paragraf panjangnya.
            Aku menunggu dua jam lamanya, dan handphone-ku bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Aku membukanya, tapi bukan sebuah pesan dari Vania, melainkan itu adalah pesan dari sahabatnya, Irena. Ia bilang bahwa Vania tidak ingin berkomunikasi lagi denganku. Dan ia meminta aku untuk tidak pernah mencarinya lagi. Aku tidak mengerti, dan terus berusaha mengontaknya, terus dan terus. Dan hasilnya sama, tidak ada balasan.
            Di sekolah, ia tidak pernah lagi menegurku ketika sedang menyantap makan di kantin. Aku ingin sekali menegurnya, tapi muncul sosok baru yang mengelilinginya, Charles. Kapten dari tim futsal sekolah yang seumuran denganku dan punya beberapa bodyguard dibelakangnya. Aku menyerah.
            2 tahun setelah itu, aku sudah lulus SMA, dan ia telah naik kelas 2 SMA, aku mulai bekerja dan melupakan semua kenangan tentang Vania.
Aku memulai aktivitasku di masyarakat. Mulai bekerja dan kuliah. Aku sudah melupakannya jauh-jauh hari. Tapi nasib ingin sekali menyatukan kami berdua.
Kantor tempat aku bekerja, tepat berada di depan rumahnya, tepat di depan mataku. Aku melihat ia diantar oleh seorang lelaki yang seusia dengannya, bukan lagi Charles. Aku sudah berhasil untuk melupakannya, namun sekarang, aku gagal, dan kembali mengingat masa-masa itu. Cukup merasakan debaran jantung yang perih. Yang tidak akan mengeluarkan darah, tapi terasa sakit seperti ditusuk oleh pisau.

I'm Not Afraid

Mereka datang dan pergi begitu saja. Datang membawa ketakutan dan pergi meninggalkan teror yang berkelanjutan. Kehadiran mereka selalu membuat bulu kudukku berdiri. Walaupun aku berusaha untuk mengabaikan mereka, tapi mereka tidak berusaha untuk mengabaikanku. Mereka terus mengawasiku, mengikutiku kemanapun aku pergi. Menatapku dengan tatapan yang menusuk.
            Namaku Fabian Angga Wijaya. Orang-orang memanggilku Ian. Umurku sekarang 15 tahun. Menurut ayahku, aku adalah seorang anak indigo, berdasarkan pada kisah menyeramkan yang kuceritakan kepada ayahku dan sering membuat ia merasa takut terhadapku.
Aku bisa melihat hal yang tidak bisa orang biasa lihat. Tidak jarang pula aku sering dipanggil oleh suara-suara yang asalnya tidak diketahui.
            Sebagai anak laki-laki, aku lebih sering terkurung di dalam rumah. Misalnya ada tugas kelompok yang diberikan guru sekolah, ayah menyarankanku mengajak teman-teman untuk mengerjakan tugas kelompok itu di rumahku. Segala sesuatu yang menunjang dalam belajar telah disediakan sangat lengkap agar aku tidak perlu untuk keluar dari rumah.
            Ayah masih tidak dapat melupakan kejadian yang kualami ketika aku masih kecil. Aku ingat saat itu kami sedang berada di stasiun kereta api dan itu adalah pertama kalinya aku datang ke stasiun kereta. Aku melihat sesosok gadis muda yang terjepit kakinya diantara rel-rel kereta api. Tentu saja tidak ada yang bisa melihatnya kecuali diriku sendiri. Sangat susah membedakan apakah itu manusia atau makhluk halus. Tanpa berpikir panjang, aku berjalan turun ke jalur kereta demi membantu anak gadis yang sedang terjebak.
            Semua orang spontan berteriak, seorang perempuan tua bisu berusaha berteriak meminta tolong kepada petugas kereta api untuk menyelamatkanku. Namun para petugas tidak mengerti. Kemudian ia menyadarkan ayahku bahwa aku sudah tidak berada berdiri di sampingnya lagi dan tengah berada di jalur kereta. Sontak ayahku langsung berlari ke arah petugas dan meminta tolong. Namun karena kereta sebentar lagi akan melintas mereka tidak berani turun. Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu ketakutan karena waktu itu aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa.
            Ayah tanpa pikir panjang segera melompat turun dan berlari dengan kencang ke arahku, aku selamat. Aku ingat ayah memarahiku habis-habisan dan yang kulakukan hanya menangis. Tapi amarah ayah tidak bertahan lama, karena ayah sangat menyayangiku. Ia bertanya kenapa aku turun ke jalur kereta.
            “Ada kakak perempuan, kakinya terjepit ayah. Dia minta tolong agar menyelamatkan dia dari sana.” Jawabku polos.
            Ayah spontan terdiam. Beberapa hari kemudian, ia membawaku ke tempat temannya dan menanyakan apa yang terjadi padaku. Temannya yang merupakan seorang cenayang mengatakan bahwa kemungkinan aku adalah seorang anak indigo. Dan sejak saat itulah, ayah menjadi lebih ketat dalam menjagaku. Ayah tidak menginginkan hal yang tidak bagus terjadi padaku.
*
            Suatu malam, aku sedang duduk santai di belakang rumah, menghadap ke kolam berenang. Sambil membaca novel picisan temanku yang menurutku lumayan bagus untuk seorang pemula. Tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil namaku, “Fabian, Fabian. Tolong!”
            Muncul sesosok wanita dengan rambut yang tampak sangat basah serta terlihat di pergelangan tangan kirinya mengeluarkan banyak sekali darah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun, sejak aku tinggal disini, dia tidak pernah memunculkan dirinya kepadaku. Mungkin ia ingin berbicara padaku ketika aku sedang sendirian karena selama ini aku selalu bersama dengan pembantu rumahku.
            “Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan?” tanyaku tanpa rasa takut karena aku sudah terbiasa menghadapi hal ini sejak masih berusia belia.
            “Aku Anisa, sebenarnya aku sudah lama ingin berbicara denganmu.  Namun selalu ada orang lain dimana pun kau berada,” katanya. “aku ingin minta tolong.”
            “Apa yang terjadi padamu?” tanyaku sambil melihat ke dalam rumah, apakah ada orang yang sedang bersantai di ruang tamu.
            “Aku di bunuh secara keji oleh para kakak kelasku di sini. Dulu ini adalah rumahku.”
            “Dibunuh? Kenapa?”
           “Dulu, sebelum aku bersekolah disini, ak bersekolah di kota lain. Karena ayahku memiliki tugas disini, aku mengurusi berkas-berkas yang dibutuhkan sekolah, karena aku murid pindahan. Waktu itu ada seorang kakak kelas yang berdiri di gerbang, ia mengaku sudah menunggu di gerbang sekolah demi bertemu denganku dan ia menawariku untuk diantari pulang,” katanya. “Awalnya aku menolak, namun dia terus memaksa dan akhirnya aku menerimanya secara terpaksa. Dan ketika aku sampai di rumah, dia ikut masuk. Aku mempersilahkan dia duduk di ruang tamu. Dan aku ke kamar untuk berganti pakaian.” Lanjutnya, ia dengan perlahan keluar dari kolam berenang.
            “Dan ternyata dia mengikutiku dari belakang sampai masuk ke dalam kamar, kemudian aku diperkosa hingga aku tidak sadarkan diri. Waktu itu kondisi rumah memang kosong karena ayah dan ibuku sedang berada di kantor mengurusi pekerjaan mereka, sedangkan adik-adikku sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Aku menjadi korban nafsu para lelaki bajingan itu.”
            “Namun, tidak berhenti sampai disana. Pergelangan tangan kiriku ini di potongnya hingga aku pingsan karena darah yang keluar cukup banyak. Kemudian aku dimasukkan ke dalam bak di dalam kamar mandi layaknya orang yang bunuh diri. Polisi juga meyakini hal itu karena tidak ada barang-barang dari rumahku yang hilang, dan kasus kemudian ditutup.”
            “Lalu apa yang kau butuhkan dariku?” Tanyaku penasaran.
            “Aku ingin kau memberitahu kepada keluargaku bahwa aku telah damai disini, di dunia yang berbeda dengan dunia mereka. Aku masih tau bahwa ibu tidak merelakan kepergianku selama ini.”
            “Tapi itukan sudah lama sekali, tahun berapa kamu meninggal, kak?” tanpa sadar aku terhanyut dalam ceritanya dan merasa bahwa dia sangat dekat denganku.
            “10 tahun yang lalu, tapi mereka masih di kota ini, akan aku beritahu alamatnya.”
          Tanpa berpikir panjang, aku langsung menelpon ayahku dan meminta agar dia mengantarkanku ke alamat kakak yang sangat sengsara ini. Bagaimana tidak, ia telah memperhatikan keluarganya, terutama ibunya selama ini larut dalam kesedihan yang mendalam. Sebuah pukulan telak bagi orang tua, ketika anak kesayangan mereka meninggal. Dan kak Anisa bukanlah satu-satunya korban nafsu para lelaki bajingan. Masih banyak diluar sana yang mengalami hal serupa, atau bisa saja lebih menyedihkan.
            Sesampainya di rumah kak Anisa, aku dan ayahku disambut baik oleh keluarga kak Anisa, terutama ayahnya, pak Darmawan. Kemudian kami dipersilahkan duduk dan memberitahukan apa maksud kedatangan kami. Lalu aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kak Anisa. Mereka sekeluarga yang mendengarkan ceritaku terlihat tidak percaya. Namun beberapa dari mereka menintikkan air mata. Aku melihat pipi kak Anisa juga telah basah oleh air matanya. Ibu dan ayah kak Anisa mengatakan bahwa mereka telah merelakan kepergian anak yang disayanginya itu. Dan berterima kasih padaku telah mengabarkannya.
            Setelah itu aku pamit kepada keluarga kak Anisa, dan sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat kak Anisa.

            Sejak saat itu, aku merasa bahwa kemampuanku ini, aku dapat membuat orang lain menjadi lebih baik. Ayah mulai mengerti dengan kemampuanku ini dan meregangkan pengawasannya terhadapku.